Iklan Rokok di Sekolah


reklame-foto-titipan-reni-man-braKOTA Padang sedang gencar-gencarnya membangun akhlak dan kepribadian generasi muda yang Islami. Berbagai program yang digelentorkan Pemko, mulai dari Asmaul Husna, sholat Dhuha, pesantren Ramadhan hingga hafalan Juz Amma. Semuanya berujung untuk menciptakan generasi muda yang tidak hanya pintar tapi juga memiliki sifat, tingkah laku yang berpegang pada nilai Islam.

Namun, ironisnya, program itu sedikit tidak sinkron. Kenapa? Coba lihat di Jalan Sudirman, tepatnya di depan SMA 1 Padang, SMA PGRI 1 Padang dan SMP 1 Padang berdiri megah sebuah baliho besar. Baliho itu membentangi 3 sekolah tersebut dengan Bank Bukopin di depannya.Baliho besar tersebut memuat iklan rokok dari sebuah merk terkenal. Timbal balik iklan rokok itu dipasang.Siang kemarin misalnya, usai sekolah, trotoar Jalan Sudirman dipenuhi siswa siswi yang menunggu jemputan dan yang ingin naik angkutan umum. Beberapa mobil juga berderet di badan jalan untuk menjemput anaknya. “Seharusnya iklan rokok kan tidak dipasang di kawasan sekolah. Kasihan juga anak-anak yang tiap hari melihat gambar iklan rokok besar-besar itu,” kata Nelly, seorang orangtua murid.

Iklan rokok itu menjadi pemandangan tiap hari oleh siswa siswi di tiga sekolah itu. Seperti di jalan utama Kota Padang, iklan rokok dengan bahasa gaul anak muda sangat nyentrik untuk dilihat. “Semua koar-koar, milihnya harus pintar”.

Itu salah satu slogan yang diusung iklan rokok. Jika dicermati, puluhan billboard meramaikan berbagai sudut jalanan Kota Padang. Ada yang bergambar kelompok musik yang segera berpentas. Ada yang bertema persahabatan dengan tagline “Nggak ada loe nggak rame”. Ada juga yang menyerukan kreativitas anak muda. Semuanya megah, terang, dan dijamin menarik perhatian

Tidak hanya di Jalan Sudirman, di dekat kawasan GOR H Agus Salim–,lokasi siswa-siswi di Padang berolahraga, berdiri baliho iklan rokok. Baliho ini berdiri tepat di depan baliho himbauan Pemko perihal, “teduhkan rumah dengan membaca Al Quran”.

Pengamat Pendidikan Universitas Negeri Padang (UNP), Prayitno, mengatakan di lokasi pendidikan, seperti sekolah, perguruan tinggi tidak boleh dipasang iklan rokok maupun iklan yang kurang mendidik.
bebas dari iklan rokok. Kelima kawasan itu antara lain angkutan umum, sarana ibadah, pendidikan, kesehatan, dan arena bermain anak

Anak-anak, kata dia, telah menjadi korban dari iklan termasuk iklan rokok, padahal anak-anak memiliki hak konstitusional untuk dilindungi dari iklan promosi dan sponsor.

“Seharusnya iklan di dekat kawasan sekolah adalah iklan yang membangun dan mendidik anak-anak. Kalau iklan rokok, jelas itu salah. Pemerintah giat untuk mendidikan generasi muda, tapi masalah rokok disepelekan,” kata Prayitno.

Sebenarnya, pemerintah telah membuat aturan bagi iklan rokok. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan. Dimana, pasal 16 – 21 disebutkan, materi iklan dilarang menyarankan orang untuk merokok, menampilkan produk rokok, dan visual orang merokok. Bahkan, anak, remaja, dan perempuan hamil juga dilarang dijadikan sasaran iklan.

Dan, mungkin di Hari Pendidikan Nasional, yang jatuh tepat 2 Mei ini, sudah seyogyanya pemerintah selaku pengambil kebijakan memperhatikan lebih detail kebijakan yang telah dikeluarkannya. Baliho-baliho yang memenuhi jalan, trotoar dan berbagai sudut kota boleh saja menjadi pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, tak ada salahnya diperhatikan aturan. Mari, kita lihat saja nanti. (*)

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s