Sesuap Nasi di Subuh Hari


Seorang wanita tua sedang menunggu pembeli di kawasan Pasar Raya Padang (depan Bioskop Raya -red). Sejak subuh wanita bernama Rostini (65) sudah berada di tengah pasar berjuang dengan dinginnya udara malam demi mencari sesuap nasi. Waktu telah menunjukkan pukul 03.00 WIB pertanda perjuangannya akan dimulai di pasar sayur subuh.

Kustiah Reni Putri-Pasar Raya Padang

Aktivitas pedagang di subuh hari–mayoritas sayur mayur dan buah-buahan tersebut berlangsung sejak subuh. Di depan kawasan bioskop Raya itu, para pedagang–didominasi wanita separuh baya sudah membanting tulang di saat orang-orang masih tidur terlelap. Setiap hari tubuh mereka harus kuat menahan dinginya udara malam menjelang subuh.

“Mangggaleh sayua sajak subuah iko lah lami ibu karajoaan. Kalau subuah iko lai rami yang mambali. Kok lai untuang untuak ibuk jam 8 pagi ibu lah bisa pulang,” kata Rostini yang tinggal di Andaleh.

Berjuang melawan kantuk dan dingin sudah menjadi teman sehari-hari oleh ibu 3 anak ini. Jika semua sayur-sayurnya habis, Rostini bisa pulang dengan senyuman ke rumahnya. Tapi jika lagi sepi, sampai sore dia masih menjual sayur-sayurannya.

“Biasonya pulang ka rumah tu kalau lah dapek untuang agak saketek untuak makan di rumah. Tapi itulah, kadang-kadang razaki iko indak tau awak do. Kok hari hujan iyo rugi lah ibu dek nyo,” imbuh Rostini yang berhasil menyekolahkan anak-anaknya hingga tamat SMA ini.

Dalam satu hari, dirinya hanya memperoleh keuntungan antara Rp 40 ribu- Rp 50 ribu. Uang tersebut harus dikurangi untuk membayar sewa “payuang” dan “beo”. Bahkan sejak Bahan Bakar Minyak (BBM) naik, harga sewa “payuang” naik dari Rp 4.000-Rp 5.000.
 
Diakuinya, berjualan di subuh hari banyak resiko. Selain melawan udara yang sangat dingin, terkadang jika hujan turun saat subuh menyebabkan tempat berdagangnya becek dan dipenuhi air. Belum lagi jika lampu mati, para pedagang kewalahan mencari lampu petromak sebagai penerangan.

Hal yang sama juga dialami pedagang sayur lainnya, Ibu Asni (54). Warga Durian Taruang Pauh IX ini sudah berjualan sayur sekitar 20 tahun. Berdagang sayur di subuh hari sudah dilakoninya selama 8 tahun. Semangat baja untuk membantu suaminya yang hanya bekerja sebagai buruh membuatnya dengan senyuman melakoni pekerjaan.

Ada pengalaman menarik, yang dialami oleh Asni ketika berdagang sayur waktu subuh. Ketika pedagang sayur dari Alahan Panjang dan Bukiktinggi–salah satu pemasok sayuran di Pasar Raya datang, seluruh ibu-ibu berebutan mendapatkan sayur. Jika tidak berebutan bisa-bisa tidak kebagian.

“Kok sayua sadang “manggantuang” (sedikit) kami disiko bacirabuik maambiak nyo. Kadang-kadang samapi tajatuah,” tukas Asni sambil tersenyum.

Seperti halnya pedagang, setiap hari Asni tidak selalu beruntung. Kadang dia hanya mendapat uang pas-pasan. Paling tidak uang sekitar Rp 50 ribu dapat dibawanya ke rumah. Tetapi, jika nasib sedang sepi, Asni harus menanggung rugi. Apalagi jika harga sayur mahal dari pemasok.

Perjuangan Rostini dan Asni mungkin juga dialami juga oleh ibu-ibu lain yang berjualan demi menghidupi anak-anaknya. Usaha dan perjuangan demi mendapatkan sesuap nasi patut dihargai. Sekarang disaat BBM naik dan jual beli yang sepi, mereka harus berani menanggung resiko anatara untung dan rugi. (***)

 

 

 

2 pemikiran pada “Sesuap Nasi di Subuh Hari

  1. ntah kenapa..
    saat melihat tulisanmu..
    aku gak menyangka..
    kok bisa seorang reni yang dulunya ku kenal jadi wartawati?
    benar-benar aku tak menyangka..
    mungkin pengaruh dari kebiasaan reni menulis di diari ya..
    oia, di diari reni waktu itu masih tersimpan kah tulisanku waktu itu?..

    RenimaldiniEmangnya dulu yang iwan kenal tentang Reni itu apa?
    Heran ,ya kenapa Reni bisa jadi wartawan…
    Lah wong sampai sekarang Reni juga heran…He..He..

  2. aku suka jurnalisme naratif. aku juga ingin reni meneruskannya. beginilah seharusnya menulis sesuatu. dari jiwa dan nurani untuk kemanusiaan. seorang jurnalis hebat akan dinilai dari karyanya…. thanks.. maju terus…

    Renimaldini-> Terima kasih b’eri…Reni juga mau tulisan reni itu bagus dan berguna bagi orang..Tapi gimana ya bikin tulisan kayak b’eri kok bisa seperti itu sih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s