1.000 Kader Flu Burung


Flu burung2Sumbar masih rawan flu burung–meskipun dalam enam bulan terakhir kasus flu burung pada unggas tergolong sangat kecil. Dalam 2008 ini hanya ditemukan 63 ekor ayam dimusnahkan di Desa Sibaladuang Kanagarian Sungai Kamuyang Kecamatan Luhak Kabupaten Limopuluah Kota. Karena itu warga dan juga peternak perlu tetap waspada terhadap kemungkinan penyebaran virus flu burung.

Kustiah Reni Putri-Padang

“Sumbar belum bebas flu burung. Sosialisasi dan himbauan untuk waspada dan tanggap flu burung harus tetap dilakukan, terutama untuk bagaimana memperluas pengetahuan masyarakat tentang bahaya flu burung dan penanganannya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbar dr Rosnini Syavitri kepada POSMETRO.

Pemprov Sumbar bekerja sama dengan Unicef membentuk kader penanggulangan virus flu burung April mendatang di 19 kabupaten/kota. Melalui program Participatory Learning Action, bersama Unicef, Pemprov akan mengkader 1.000 pemuda yang bakal terlibat dalam pencegahan penularan virus H5NI yang dapat menyebabkan kematian pada manusia.

Pengkaderan dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat — khususnya kalangan peternak unggas yang sangat rentan terkena virus H5NI. Selain itu, kader yang terbentuk bisa melakukan pengawasan langsung kepada peternak yang berada mulai dari tingkat kecamatan, kelurahan hingga ke nagari.

Kader tersebut diharapkan turut memberikan penyadaran kepada masyarakat terutama peternak unggas tentang bagaimana menyelenggarakan peternakkan yang lebih tepat, bersih, sehat dan aman. Pelatihan kader ini melibatkan 19 kabupaten/kota di Sumbar.

“Kader kita ambil dari kader-kader posyandu yang telah ada. Masing-masing kabupaten/kota akan dilatih 40 hingga 80 kader. Tergantung cakupan atau luas daerahnya. Yang lebih diutamakan daerah sentra peternakan, seperti di Payakumbuh dan Limopuluah Kota,” teragnya.

Sementara Kasubdin Kesehatan Hewan Dinas Perternakan (Disnak) Sumbar drh Erinaldi menyebutkan, Disnak juga akan membentuk 500 kader nagari untuk soisialisasi dan pengawasan lalu lintas (chek point) di pintu masuk perbatasan Sumbar. Selain itu juga dibentuk 57 unit Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan).

Tidak hanya pembentukan kader dan puskeswan, 2008-2009 Sumbar bekerjasama dengan FAO — Badan Pangan Dunia, akan melatih 114 orang tenaga participatory diseases survey and respond (PDSR).

“Kami memberikan pengertian kepada masyarakat dan peternak flu burung sangat menular diantara burung dan dapat menyebabkan penyakit serta kematian pada burung peliharaan termasuk ayam, bebek. Kesadaran masyarakat untuk berprilaku sehat perlu diingatkan kembali,” ujar Erinaldi menambahkan bahwa langkah pemusnahan unggas sebenarnya hanyalah mengurangi resiko dari penyebaran virus flu burung.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan peternak maupun masyarakat untuk mengurangi risiko penularan virus H5N1 adalah dengan tidak menyentuh unggas yang sakit atau mati, dan menjaga kebersihan lingkungan perternakan.

“Jika kita terlanjur kontak, cepat-cepat cuci tangan pakai sabun dan dan telur ayam sampai matang. Namun untuk pencegahan, ada baiknya setelah kontak dengan unggas baik yang sehata atau sakit seharusnya tetap mencuci tangan sebersih mungkin,” jelas Erinaldi yang menghimbau masyarakat untuk lebih proaktif dan tanggap terhadap flu burung.

Virus flu burung merupakan virus yang sangat mematikan. Virus ini menyebar antar unggas dan dapat menginfeksi manusia. Gejala klinis serangan virus flu burung pada unggas sering tidak tampak. Yang sangat khas adalah kematian mendadak. Misalnya, ayam tengah makan tiba-tiba mati.

Sementara pada manusia, infeksi virus flu burung ditandai dengan panas tinggi disertai sesak nafas berat. Bila menemukan tanda-tanda seperti ini, dan sebelumnya ada riwayat kontak dengan unggas, warga sebaiknya segera ke puskesmas untuk mendapatkan diagnosa dan pemberian Tamiflu. Tamiflu diberikan secara gratis di puskesmas. Obat ini berfungsi mencegah berkembangnya virus flu burung dalam tubuh. Namun obat ini hanya efektif apabila diberikan dalam dua hari atau 48 jam sejak pasien mengidap gejala flu burung.

Sejauh ini di Sumatera Barat baru ditemukan 3 kasus pasien flu burung. Satu orang akhirnya meninggal dan dua orang lainnya sembuh. Kasus flu burung pada unggas di Sumbar tertinggi pada Februari 2007 — tercatat 4.452 ekor ayam mati mendadak dengan sebaran ada di 68 kepala keluarga (KK).

Di Indonesia, kasus flu burung tercatat pada manusia 129 orang. Dengan korban meninggal 105 orang. Hingga Maret 2008, telah ditemukan 12 kasus dan 10 meninggal. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s