Simpang Kinol Kala Malam


Suasana malam hari di Simpang Kinol. Para pedagang dengan gerobak menyediakan segala macam makanan nyami pokoknya (3)Pernah jalan-jalan di perempatan Jalan Niaga, Tepi Pasang dan Sungai Bong? Ya, perempatan jalan tersebut selalu ramai dipenuhi oleh mobil dan sepeda motor. Terutama sore dan malam hari. Malah, semakin malam kawasan yang lebih dikenal dengan sebutan Simpang Kinol itu makin semarak dengan lampu-lampu dari gerobak pedagang–berjejeran di perempatan jalan tersebut.

Kustiah Reni Putri-Simpang Kinol
Simpang Kinol di malam hari seperi pasar kaget–dengan banyaknya pedagang makanan–ditawarkan para pedagang. Setiap sisi jalan, gerobak-gerobak makanan siap melayani pembeli yang sengaja datang atau sekedar kumpul-kumpul dengan taman dan kerabat.

Sabtu (12/7) malam, ketika POSMETRO menjambangi perempatan Simpang Kinol, aroma masakan langsung menusuk hidung. Bercampur menjadi satu antara aroma sate, soto, gado-gado, pecel lele hingga aroma durian.

“Mau beli apa? Singgah dulu, ada sate kacang sama teh panas. Atau mau makan soto. Silahkan duduk,” begitu ucapan terlontar dari para pedagang menawarkan setiap pengunjung yang baru datang di Simpang Kinol.

Suasana malam hari di Simpang Kinol. Para pedagang dengan gerobak menyediakan segala macam makanan nyami pokoknya (6)Bangku dari kayu lengkap dengan meja panjang disediakan pedagang. Sate Padang, Sate Madura, Pecel Lele, Soto Padang, es durian, es buah campur adalah menu andalan yang bisa didapatkan di Simpang Kinol. Menu makanan serba Padang bisa ditemui di Simpang Kinol–kecuali pecel lele.

Pak Saidi (54), seorang pedagang sate yang ditemui koran ini tengah sibuk mengipas-ngipas sate di atas bara api. Tangannya cekatan sekali mengipas dan memindahkan tusuk-tusuk sate ke dalam sebuah piring. “Sebentar ya, lagi banyak yang pesan. Maklum malam minggu pembeli banyak yang datang,” kata Pak Saidi.
 
Malam minggu kemarin, Simpang Kinol ramai dikunjungi–terutama oleh anak muda–dengan sepeda motor. Cuaca cerah membuat nyaman pembeli yang datang. “Yah, kalau hujan biasanya tidak seramai ini. Mereka hanya membeli dari atas mobil tidak mau makan di sini. Untunglah malam minggu ini cuaca bagus. Dan tidak mati lampu,” ujar Pak Saidi.

Kinol merupakan nama sebuah apotik di kawasan Jalan Niaga, kata Pak Saidi yang menceritakan asal nama Simpang Kinol. Tahun 1980-an sebutan Simpang Kinol sudah dikenal orang. Namun, tahun 80-an itu, Simpang Kinol belum seramai sekarang. Belum ada penjual makanan dan pedagang di perempatan jalan.

“Orang ramai berjualan sekitar 1990. Setiap tahun ada saja pedagang yang mengadu nasib di Simpang Kinol. Dulu belum ada pecel lele, freid chicken. Sekarang banyak variasi makanan bisa ditemui,” kata Pak Saidi yang sudah berjualan sejak 1997.

Bahkan, kata Pak Saidi, sejak adanya Jembatan Siti Nurbaya anak-anak muda sering datang makan sate di tempatnya. Setelah menikmati keindahan malam di Jembatan Siti Nurbaya, sebaiknya singgah ke Simpang Kinol untuk makan. Sekarang, Simpang Kinol tidak hanya dikenal oleh orang Padang dan Sumbar saja. Tapi, Simpang Kinol  mungkin sudah dikenal sampai ke luar Sumbar. Ada baiknya, Dinas Pariwisata Kota Padang bisa menjadikan Simpang Kinol sebagai salah satu agenda wisata. Dengan menjadikan Simpang Kinol kawasan jajanan makanan khas urang Minang. (***)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s