Tunggu Aku di masjid,…


Akhirnya shalat tarawih yang saya mimpi-mimpikan bisa saya tunaikan. Kemarin, Minggu (31/8) adalah tarawih pertama seluruh umat muslim di bulan suci Ramadhan yang penuh hikmah—dan saya bisa berjejer dengan perempuan dengan mukenah serba putih.

Dan pemandangan itu saya temukan lagi di malam Ramadhan. Masjid dibanjiri oleh kaum muslimin. Pemandangan ini selalu akan ditemui saat bulan Ramadhan. Masjid yang biasanya hanya diisi oleh beberapa orang (istilah kami di rumah, adalah penghuni tetap yang itu-itu saja…).
Tapi, sekarang selama satu bulan ke depan Masjid Darul Hujjaj–disitulah saya biasa shalat—dari masa kecil hingga dewasa sekarang, penuh dengan wajah-wajah baru. Tapi, saya juga merasa malu. Karena saya juga adalah wajah baru di masjid itu setelah satu tahun ini—hitungan jari saya hanya melangkahkan kaki ke masjid.

Menyedihkan memang, masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari ruamh sangat jarang saya kunjungi. Padahal, mama sering sekali bilang ” ayo shalat berjamaah di masjid,” tapi tetap saja itu tak bisa saya lakukan.

Bukan bermaksud membela diri. Jujur, keinginan shalat di masjid itu ada–karena saya termasuk salah seorang anak komplek dari kecil selalu datang ke masjid. Tapi, sejak dua tahun lalu—persisnya sejak saya menjadi wartawan–rutinitas itu makin jarang dilakukan.

Pertama, dari pagi hingga malam–sekitar pukul 20.00 wib saya masih di kantor atau dalam perjalanan pulang ke rumah (meskipun, ada 1,2 hari saya pulang cepat ke rumah…)

Kedua, jika saya berada di rumah (ketika off..) pergi ke masjid sangat malas. Hanya sekali-kali saja, itupun setelah dipaksa sama mama…

Ketiga, shalat subuh yang seyogyanya bisa dikerjakan di masjid juga tak ada lagi.. Pernah beberapa hari saya shalat subuh, eh setelah itu tak ada lagi. Dan masih banyak lagi sebab dan alasan lain. Seharusnya itu tak boleh menjadi alasan.

Tapi, Ramadhan tahun ini saya sudah bertekad bahwa shalat tarawif, subuh dan mengaji adalah kewajiban yang harus saya lakukan. Jika tahun lalu, saya ke masjid hanya dua minggu saja, sekarang saya ingin setiap malam bisa ke masjid (meski itu sulit untuk tercapai…) tapi setidaknya saya udah ada niat…Dan semoga juga ibadah puasa tahun ini lebih baik dari tahun lalu.

Dan, jika membicarakan Ramadhan lagi, begitu banyak kenangan yang tak mungkin saya lupakan. Banyak kenangan yang tercipta sejak kecil hingga remaja masa SMA. Ramadhan datang adalah waktu bermain di amsjid, ajang kumpul anak-anak komplek dan anak-anak TPA/TPSA.

Kami, sangat menanti datangnya bulan Ramadhan. Dan, yang saya nantikan adalah waktu taradus di masjid. Kenapa? Karena disanalah ajang saya bisa saling berhadap-hadapan dengan orang itu. Tak hanya taradus, tapi banyak momen lain.

Sungguh, saya sangat meridukan hari itu. Tapi, saya tahu itu tak mungkin terulang lagi. Tak ada taradus yang dihadiri oleh orang itu. Dia telah pergi dan saya pun yakin itu tak mungkin diulangi lagi. Ketika
melihat, Ramadhan sekarang, disaat anak-anak sibuk dengan Pesantren Ramadhan. Dalam hati bertanya, “Apakah ada kisah kasih seperti saya dulu ketika Ramadhan itu datang,” Ah, pertanyaan itu tak perlu dijawab. Yang penting, masjid itu telah meberi sejuta kenangan, indah dan juga sedih…

5 pemikiran pada “Tunggu Aku di masjid,…

  1. seandainya ALLah menurunkan kiamat kemarin pagi… just wondering!!! pasti gerbang surga yang menuju ke kapling kampung saya berjubel, sold out, dan ngantree panjang sekali…. sayang biasanya hanya bertahan seminggu, hihihihi
    semoga Allah memberikan kekuatan pada saya untuk bisa menggantungkan hati saya di musholla sebulan ini… dan dibulan2 sesudahnya, amiinn

    Renimaldini-> Amin…

  2. dan ternyata di masjid ini juga renimaldini jatuh cinta..ckck..CBSN (cinta bersemi saat ngaji)
    dan ternyata ada alasan lain yang ngedompleng dari niat reni ke masjid, hanya untuk memandang orang itu (siapakah dia)..
    cinta memang an rasional, Ikal puas memadang atap rumah Aling, (dari Laskar Pelangi Andrea Hirata), reni lepas rasa rindunya memandang wajah orang itu..(siapak dia)

  3. wuihh ternyata reni memanfaatkan masji duntuk tepe (tebar pesona)..
    tapi kan ndak ikuik ngambil sandal ka ren.. hehe
    soalnya waktu wak sholat di masjid tampek reni, ilang sandal wak..tu wak ganti se samo nan baru lai..hiihi

    Renimaldini-> -> Emang bilo Anto shalat di masjid rumah Reni….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s